Panduan Lengkap ke Desa Sade Lombok Beserta 10 Keunikannya

Desa Sade

Alhamdulillah di tahun 2017 ini saya bisa menghabiskan waktu selama 6 bulan di pulau Lombok berkat kerjaan sebagai pengawas proyek. Awal bos ngasih tau soal proyek di Lombok, jujur aja yang langsung ada di pikiran saya tuh adalah jalan-jalan. Haha, ngga lama sayapun googling all about Lombok, hingga akhirnya saya menemukan Desa Sade.

Ada apa sih dengan Desa Sade ini? Baca terus kebawah ya, karena saya bakal mengulas abis Desa Sade ini mulai dari panduan lengkap hingga keunikannya.

Mengenal Desa Adat Sade di Lombok

Desa Sade atau yang dikenal dengan Sade Village adalah salah satu desa di wilayah Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Desa ini dikenal sebagai desa yang mempertahankan banget adat suku Sasak yang merupakan suku asli pulau Lombok.

FYI, dinas pariwisata di Lombok memang sengaja menjadikan Sade ini sebagai desa wisata karena penduduknya yang masih berpegang teguh menjaga keaslian dan ketradisionalan desa sejak 1989. Jadi jangan heran melihat Desa Sade yang benar-benar masih menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok.

Di Depan Desa Sade
Saya dan teman-Teman Foto Bersama di Depan Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Untuk luasnya sendiri, Desa Sade berukuran sekitar 5,5 hektar dengan jumlah rumah penduduk tradisional sekitar 150an bangunan. Adapun total penghuninya, sebanyak 700 orang yang mana setiap rumah terdiri dari satu kepala keluarga. Desa ini sudah dihuni sebanyak 15 generasi lho!

Sebenarnya, ada banyak desa di Lombok yang dihuni oleh penduduk suku asli Sasak. Hanya saja, cuman di Desa Sade Rembitan inilah yang masih menjaga ketradisionalannya. Desa Sasak diluaran sana sih, sudah banyak yang modern dengan mendirikan rumah berbahan bata.

Sejarah Desa Sade

Sejak tahun 1975, ternyata desa tradisional ini sering banget dikunjungi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun dari mancanegara.

Lingkungan Desa Sade
Lingkungan Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Menurut sejarah sih, desa ini udah ada sejak 600 tahun yang lalu dengan keunikan bangunan, adat istiadat, tarian, permainan musik, dan gaya berpakaiannya. Termasuk dengan keunikan ajaran Watte Telu-nya, yaitu ajaran tiga kali sholat dalam sehari.

Tapi Watte Telu ini udah lama ditinggalin. Alhamdulillah sekarang semua masyarakat di Desa ini akhirnya memeluk islam sepenuhnya.

Cara Akses Menuju Desa Sade

Hari itu, Minggu 25 Agustus 2019 saya bersama kelima teman saya berangkat dari kota Mataram menuju Desa Sade di Lombok Tengah. Ngga ribet sih perjalanannya, karena kebetulan salah satu teman saya yang namanya Kak Dewi punya mobil yang bisa digunain sebagai kendaraan.

Kalau misalkan kalian pendatang yang masih baru banget di Lombok, dan mau rame-ramean ke Desa Sade-nya, saran saya mending rental mobil aja biar murah. Tapi kalau sendiri, bisalah naik ojol biar lebih hemat karena jarak Desa Sade ini dari Bandara Lombok aja sekitar 10 km. Yah, bisa memakan waktu kurang lebih 15 menit lah.

Lokasi Desa Sade bisa dicek disini.

Sementara kalau berangkat dari Mataram, jarak tempuhnya itu sekitar 39 km, dan memakan waktu sekitar 45 menit kurang lebih. Makanya saya saranin bagus rental kendaraan aja kalau memang start-nya dari kota Mataram. Trus kalian juga ngga usah khawatir akan lokasinya karena terletak persis di samping jalan raya aspal mulus.

Biaya Masuk ke Desa Sade

Masuk ke Desa Sade sih sebenarnya ngga ada biaya. Harga tiket masuknya gratis. Tapi, biasanya ketika sampai di lokasi, akan ada penduduk setempat yang menawarkan diri untuk jadi tour guide kalian dan meminta sumbangan seikhlasnya.

Di Desa Sade
Saya Foto Bareng Teman-Teman di Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Waktu saya kesana bareng temen-temen, kita malah diwajibkan sih pake jasa mereka untuk bisa tur mengelilingin Desa Sade ini. Yah, mungkin supaya lebih enak, jangan sendiri atau berdua kalau mau kesana. Kalaupun mentok sendirian, coba aja gabung sama rombongan pengunjung lain biar ngga menyusahkan si guide.

Diakhir tur, kalian nanti juga akan diminta untuk mengisi buku tamu. Di momen itulah kalian akan diberikan kesempatan untuk memberi sumbangan. Waktu kesana sih, saya sama temen-temen bayarnya cuma 50K IDR untuk semua.

10 Keunikan Desa Sade

Bangunan Tahan Gempa

Bicara soal tahan gempa, pasti di benak kita langsung terbersit struktur bangunan yang kuat dan kokoh. Tapi jangan salah guys, di Desa Sade ini meski bahan materialnya dari bahan tradisional, ternyata saat gempa Lombok tahun 2018 silam ngga membuat rumah mereka porak poranda seperti rumah batu pada umumnya.

Baca Juga: The Griya Lombok, Rumah dari Sampah Kertas Anti Gempa Hingga 7,0 SR

Kita mulai dari tampak luar yaa.

Jadi jarak antar bangunan tradisional di sini tuh tersusun rapi dan rapat. Hal ini dikarenakan kondisi geografinya yang berbentuk gundukan perbukitan. Pokoknya kalian bakal takjub dengan kerapian dan keunikan rumah tradisional ini.

Adapun dari dekat, kita bisa ngeliat atapnya yang terbuat dari ijuk ilalang kering, kuda-kuda atapnya menggunakan bambu dan kayu, temboknya dari anyaman bambu, dan lantainya langsung beralaskan tanah liat dengan campuran sekam padi.

Bangunan di Desa Sade
Bangunan di Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Untuk atapnya sendiri, penggantian bahan ijuk ilalangnya dilakuin sekitar 5 sampai 15 tahun sekali tergantung kerapatan pemasangannya. Semakin rapat, maka atap tersebut semakin awet.

Begitulah model rumah mereka kira-kira. Ngga cuma rumah, bahkan bangunan masjid, lumbung padi, dan tempat pertemuannya modelnya juga seperti itu. Bagusnya, dengan material tersebut suhu jadi bisa menyesuaikan. Kalau siang jadinya sejuk, dan malam jadi hangat.

Bangunan Dengan Banyak Fungsi dan Makna

Masyarakat Suku Sasak Sade menamakan bangunan rumah tadi dengan nama ‘bale‘. Berdasarkan info dari guide kami disana, terdapat delapan bale di Desa Sade ini yang dibedain berdasarkan fungsinya.

Pas lihat sekilas sih, saya pikir semua bangunan tradisional di Desa Sade ini semuanya sama. Tapi ternyata ngga. Contohnya aja seperti Bale Bonter. Ternyata bangunan Bale Bonter ini berfungsi sebagai rumah pejabat desa.

Selain itu, ada juga yang namanya Bale Kodong. Bale Kodong ini ternyata adalah rumah untuk warga yang baru nikah, atau rumah untuk orang tua yang ingin menikmati masa tuanya.

Istirahat di Bale Desa Sade
Istirahat di Bale Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Sementara Bale Tani, diperuntukkan sebagai tempat tinggal mereka yang udah berkeluarga dan memiliki keturunan. Yang mana, secara keseluruhan rumah tradisional mereka (Bale Tani) ini dibagi menjadi tiga bagian.

Bagian yang pertama adalah bagian depan atau bale luar, gunanya untuk tempat tidur anak laki-laki dan orang tua, serta tempat untuk menerima tamu. Ketika masuk di area ini, kita akan melihat bagian opening-an yang sengaja dibuat rendah supaya setiap tamu yang datang bisa merunduk sebagai tanda bahwa tamu ngehormatin pemilik rumah.

Memasuki bagian kedua, posisinya jadi lebih tinggi 1 meter. Pada bagian ini fungsinya lebih ke arah dapur, lumbung dan tempat tidur untuk anak perempuan.

Dapur Suku Sasak
Dapur Tempat Masak Dalam Bale Tani | Dok. Suryani Palamui

Adapun bagian terakhir yaitu bale dalam, diperuntukkan sebagai tempat melahirkan, dimana tempat ini lebih kecil dibandingin dengan kamar lainnya. Pas masuk ke bale dalam, kita pasti akan ngelewatin 3 anak tangga. Nah, 3 anak tangga ini juga punya makna sendiri lho. Yaitu mencerminkan kehidupan dari dilahirkan, berkembang, dan meninggal. Penuh filosofi banget ya!

Lantai Dilumuri Kotoran Kerbau

Seluruh warga Desa Sade ini ternyata punya kebiasaan unik dalam mengepel lantai. Yap, sesuai judulnya, mereka ngepel pake kotoran kerbau. Katanya dulu waktu belum ada plester semen, orang Sasak di Desa Sade suka ngolesin kotoran kerbau di rumah mereka.

Hal ini karena mereka percaya bahwa dengan cara tersebut, lantai rumah bisa jadi lebih hangat dan dijauhin nyamuk. Bayangin aja, kotoran itu ngga dicampur apa pun kecuali sedikit air. Tapi pas saya masuk ke rumah mereka, anehnya seperti ngga ada bau kotoran yang tercium.

Lantai dari Tanah Liat
Lantai dari Tanah Liat Setelah Dilumuri Kotoran Kerbau | Dok. Suryani Palamui

Mereka ngelakuin ini bisa sekali seminggu atau sekali dalam sebulan. Biasanya juga saat ada acara-acara tertentu. Kalau udah kering, lantainya akan disapu dengan batu. Fungsinya sebagai perekat biar lantainya kuat dan ngga keropos.

Kalau sekarang sih, sudah ada sebagian dari mereka yang bikin plester semen dulu, baru kemudian diolesin kotoran kerbau di rumah mereka. Namanya juga jaman sudah berkembang ya, plester semen ini mereka gunain agar suasana rumah lebih nyaman.

Kearifan Lokal Penduduk Suku Sasak

Keunikan lainnya dari Desa Sade di Lombok ini adalah, ditempati oleh suku asli Pulau Lombok yaitu Suku Sasak. Desa yang awet akan adat istiadat dan kebudayaan ini, sering benget dikunjungin oleh wisatawan untuk digali tradisi dan kebiasaan unik mereka. Termasuk oleh saya dan 5 teman saya kemarin.

Jangan salah, berkunjung ke desa ini tuh ngga hanya sekedar ngelihat bentuk bangunannya yang tradisional. Lebih dari itu. Kalian bisa ngerasain pola kehidupan mereka, dan bisa berintraksi dengan masyarakatnya yang ramah. Saya aja sama temen-temen kemarin sampai dibolehin masuk ke rumah mereka.

Lingkungan Desa Sade
Lingkungan Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Keramahan orang disini saya acungin jempol banget karena udah welcome dengan pengunjung, terutama bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai tradisi mereka.

Uniknya disini, mereka masih ngelakuin yang namanya perkawinan antar saudara. Maksudnya, kawin yang masih ada satu garis keturunan gitu lho. Soalnya pernikahan kayak gini menurut mereka adalah pernikahan yang cenderung lebih gampang dibandingin nikah dengan cewek dari desa lain. Alasannya karena mereka harus ngeluarin beberapa ekor kerbau katanya.

Pohon Cinta Desa Sade

Masih berhubungan dengan nikah, di Desa Sade ini ada yang namanya Pohon Cinta. Pohon ini tampilannya seperti pohon kering (pohon nangka yang sudah mati) yang letaknya ada di tengah-tengah desa. Tau ngga kenapa namanya pohon cinta?

Ternyata guys, pohonnya dinamain pohon cinta karena pohon tersebutlah yang menjadi saksi pertemuan para pecinta di sini. Mereka yang lagi jatuh cinta ini, berjanji untuk ketemu dalam momen memari’ atau kawin lari yang akan diatur oleh mak comblang.

Pohon Cinta Desa Sade
Di Depan Pohon Cinta Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Tugasnya mak comblang disini ngga hanya mempertemukan pasangan saja, melainkan juga bertugas memantau kondisi rumah si ceweknya nanti. Dia akan ngelihat apakah si cewek ada di rumah, ada orang tuanya, atau ada cowok lain kah yang bertamu. Berhubung anak muda Sasak ngga boleh pacaran, bahkan berduaanpun juga ngga boleh.

Kalau udah berjanji, nantinya mereka akan ketemu di pohon cinta yang dijadikan patokan tersebut. Pohon itu dipilih karena lokasinya yang berada di satu gang sepi. Saking jarangnya masyarakat yang lewat gang itu, pohon itulah yang pas dijadiin tempat pertemuan. Setelah itu, barulah mereka kawin lari.

Tradisi Unik Kawin Lari

Sebenarnya tradisi unik kawin lari ini bukan seperti kawin lari yang kita bayangkan pada umumnya, bahwa orang tua si cewek nantinya akan marah besar tau anaknya diculik sama cowok. Ngga gitu. Memang nantinya si cowok akan menculik si cewek dari rumahnya yang ngga boleh diketahui oleh orang tuanya. Tapi, ada yang beda di tradisi ini.

Jadi tradisi kawin lari ini memang mewajibkan si calon mempelai cowok untuk menculik calon mempelai cewek sebelum pernikahan diselenggarain. Tenang aja, ngga ada satu pun polisi yang terlibat karena prosedur penculikannya udah diatur oleh adat.

Bayangin, disini kalau ada cowok yang ngelamar baik-baik seperti datang ke rumah, bawa makanan, trus ngobrol ke calon mertua dengan sopan, maka si cowok nantinya bakal jadi bahan pembicaraan karena udah ngelanggar adat.

Berkelana di Desa Sade
Berkelana di Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Bahkan, kalo langsung minta tanpa drama penculikan lebih dulu, keluarga si cewek bakal tersinggung. Kesannya anak mereka itu kek barang. Hehe, ada-ada aja ya.

Adapun aturan kawin lari ini adalah sebagai berikut:

Cowok yang pengen menikahi cewek idamannya wajib menculik cewek tersebut dan membawanya ke rumah keluarga atau teman laki-lakinya selama tiga hari dua malam.

Dalam aksi penculikan tersebut, pohon cinta tadilah yang menjadi meeting point. Jadi, si cowok akan janjian sama pasangan di bawah pohon itu, dan kemudian mereka minggat bersama.

Pagi harinya setelah penculikan, utusan dari pihak cowok akan ngabarin keluarga si cewek bahwa anak mereka berhasil diculik tadi malam, sembari memohon restu untuk dinikahin. Umumnya cowok disini diharuskan untuk menikahi cewek dari suku Sasak juga.

Well, jadi setelah si cowok ngungkapin isi hatinya ke keluarga si cewek, barulah bisa diadain pernikahan dengan membawa si cewek kembali ke rumahnya yang disebut ‘nyokolan’. Setelah itu, mereka nanti akan menempati sebuah rumah kecil bernama ‘Bale Kodong’ untuk bulan madu.

Atraksi dan Pertunjukan Rakyat

Keunikan lain yang dilihat ketika mengunjungi Desa Sade ini adalah tarian khasnya. Biasanya tarian yang menjadi atraksi dan pertunjukan rakyat ini diadain di waktu tertentu aja. Salah satu diantaranya yang terkenal adalah Tari Gendang Beleq.

Gendang Beleq ini dulunya ditampilin untuk menyambut kembali warga Lombok dari berperang. Tapi tarian yang bisa dimainkan hingga 40 orang bahkan lebih ini, sekarang hanya dipertunjukkan untuk acara nikahan, khitanan, atau acara momentum yang ada di Lombok.

Orang Lombok percaya bahwa semua alat musik yang dimainin di Gendang Beleq punya “penjaganya”. Oleh karena itu, biasanya diadain ritual sebelum show dengan menaburi bunga dan berdoa bersama di deket alat musiknya. Doanya tetap kepada Allah, tapi mereka juga minta izin ke yang “punya” alat musik ini.

Pakaian Adat Desa Sade yang Digunakan Tiap Hari

Masyarakat di Desa Sade ini tiap harinya selalu menggunakan pakaian adat Suku Sasak. Meskipun ngga semua penduduk, tapi saya dan temen-temen kemarin ngerasain banget suasana jaman dulu di Desa Sade ini.

Baju Adat Suku Sasak
Guide Kami Mengenakan Pakaian Adat Suku Sasak | Dok. Suryani Palamui

Padahal kan biasanya pakaian adat daerah cuman digunain pas acara-acara tertentu ya? Nah, berbeda dengan penduduk Sade yang selalu mengenakanya tiap hari.

Cewek Wajib Bisa Buat Kain Tenun

Seperti kain tenun khas lainnya, kain tenun dari Desa Sade juga punya ciri yang beda dengan kain tenun di daerah lain. Ciri yang menonjol banget itu adalah dari segi motif dan proses pengerjaan yang tradisional banget. Salah satu produk kain tenun yang menjadi ciri khas Lombok adalah kain songket.

Waktu main kesini, saya sama temen-temen yang lain berinteraksi dengan si penenun lho. Bahkan mereka bisa ngajarin kita untuk menenun. Uniknya disini, warga Desa Sade yang perempuan diwajibkan bisa menenun kain.

Kain Tenun Desa Sade
Teman Saya, Moli, Diajarin Menenun | Dok. Suryani Palamui

Bayangin, mereka cewek-cewek ini udah mulai menenun sejak usia 9 tahun. Soalnya, keterampilan menenun ini merupakan bagian dari tradisi yang harus terus diwarisin, dan menurut aturan adat bahwa anak cewek ngga boleh nikah kalo belum bisa menenun kain.

Proses membuat kain tenun ini dimulai dari pemintalan kapas kering menjadi benang. Benang yang udah rapi kemudian diberi perwarna yang berasal dari bahan-bahan alami. Pembuatan kain songket sepanjang 2 meter misalnya, perlu waktu pengerjaan antara dua minggu sampai tiga bulan, tergantung tingkat kerumitan pola dan jenisnya.

Potensi Desa Sade Dalam Bertani dan Berdagang

Selain menenun, ada juga potensi Desa Sade yang lainnya yang merupakan mata pencaharian utama mereka, yaitu bertani. Tapi karena di sana saluran irigasinya ngga ada dan hanya ngandalin air hujan, maka panen bisa dilakukan dalam sekali setahun.

Hasil panennya nanti berupa padi dan palawija. Nantinya, hasil tersebut disimpan di dalam bangunan kecil yang merupakan lumbung padi, yaitu Lumbung Pare dan hanya boleh diambil oleh si ibu.

Kopi Khas Lombok di Desa Sade
Pembuatan Kopi Khas Lombok di Desa Sade | Dok. Suryani Palamui

Oleh karena itu jugalah hingga akhirnya mereka punya pekerjaan sampingan selain menenun, yaitu membuat cinderamata.

Pas ngelilingin desa ini, saya ngelihat ada banyak dari mereka yang menjajakan dagangannya mulai dari kain tenun sampai ke aksesoris seperti gelang dan kalung. Oh ya, di sini juga ada yang ngelola kopi lho untuk dijual.

Kopi itu ada yang udah ditumbuk halus, ada juga yang masih berupa biji. Ternyata, masyarakat Desa Sade itu doyan minum kopi guys. Mereka biasanya minum sebelum berangkat ke ladang. Kopinya ngga bikin sakit perut malah, karena ada campuran berasnya.

Panduan Lengkap ke Desa Sade Lombok Beserta 10 Keunikannya Yanikmatilah Saja

7 thoughts on “Panduan Lengkap ke Desa Sade Lombok Beserta 10 Keunikannya

  1. Waaah lengkap banget mba, I wondering how you could remembered all the things that guide have said. Bawa notes kah ?

    Kalau siang jadinya sejuk, dan malam jadi hangat. Bayangin rumah itu ada diJakarta, wah asik banget ga perlu AC hahahaha. Tapi ya aku jadi bertanya tanya, adakah rumah yang tingkat lantai 2-3 disana ? gaada ya pasti wkwkw

    Kalaupun di Jkt ada rumah begitu, pasti jadi bahan foto instagram hihi.

    Perihal cerita kawin lari, lucu banget yaaa. Hahaha tradisinya unik sekali, dan kalau nggak baca cerita diblog ini aku ga bakal tau ada cerita dibawa lari dulu sebelum dilamar. Padahal umumnya, kalau di Jawa di bawa lari dulu baru dilamar yang ada cowonya bakalan di gorok sama si bapak.

    Btw btw, berarti rumah kodong itu dipakainya bergilir dan hanya sementara ya ? setelah honeymoon mereka harus bikin rumah sendiri?

    Jujuuur abis baca ini jadi ingin traveling, dan belajar tentang kehidupan,budaya,tradisi tempat tempat yang kusinggahi.

    1. Aku ngga bawa notes Mba, cuma aku rekam aja di hape. Karena biasanya kalo nyatet di notes, pulang-pulang pasti apa yang aku catet suka ngga paham. Hehe. Desa Sade emang seunik itu mba, ntar kalo ada kesmepatan main kesini ya 🙂

      1. Waah di rekam ya.. Kalo direkam sih enak ya lebih jelas sekalian flashback. Bener , aku juga sering lupa kalo nyatet karena tulisanku kadang jelek sampe gabisa baca hahahaha

  2. Itu pas ngasih 50.000, dimasukkin ke semacam kotak amal gitu apa gimana mbak? Secara misal langsung ngasih dan keliatan nominalnya, kok rasanya agak-agak canggung. Takut: “eh, ini kurang nggak ya?” – “pas nggak ya?”

    Ini harus ada penelitian lebih lanjut sepertinya, kenapa di dalam rumah yang ada di Desa Sade yang dilumuri kotoran kerbau nggak bau kotoran sama sekali?

    1. Itu Rp50.000,- nya masuk kotak amal kok mas. Terus diisi langsung nominalnya di buku tamu tersebut. Mungkin biar bisa dipantau sama bagian dinas pariwisata. Nyantai aja mas, mau ngasih berapa.

      Bener mas, mesti ada penelitiannya. Saya sendiri juga heran kenapa bisa ngga bau mas. Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *