Jadi Travel Blogger Akhirnya Menjadi Pilihan Saya. Ini 10 Cerita dan Alasannya!

Jadi Travel Blogger

Sudah sekian lama saya melabeli blog saya sebagai blog lifestyle. Ya iya, memang benar lifestyle, yang isinya keseharian saya dengan topik campur-campur mulai dari A, B, C, sampai Z. Lalu kenapa sekarang memilih jadi Travel Blogger? Yah simple-nya kerena blog ini bakal jadi blog yang akan banyak membahas traveling. Haha.

Sebelumnya saya pengen ngasih tau sebelum kamu lanjut membaca hingga kebawah, please jangan baper terutama kalo kamu juga adalah seorang blogger. Karena saya tau akan ada yang pro dan kontra terhadap tulisan ini. Tapi sungguh, apa yang saya tuliskan ini adalah murni apa yang ada di pemikiran saya, dan apa yang saya yakini sekarang. Dan yang pasti, kamu ngga saya paksa untuk setuju dengan saya.

Oke langsung aja. Kamu yang ngikutin blog ini pasti tau kan blog ini dari jaman kapan adalah memang blog lifestyle, yang membahas keseharian saya dengan segala macam topik.

Awalnya Dilema Dengan Niche Lifestyle

Pertanyaannya, lifestyle itu adalah benar-benar sebuah niche kah? Karena jujur betapa menyiksanya niche ini ketika saya ingin mendapatkan traffic yang organic dari Google, dengan pengunjung yang berujung menjadi subscriber.

Paham nda? Entah ya, menurut saya kok makin kesini saya ngerasa blog lifestyle ini ngga benar-benar adalah sebuah niche blog.

Bahkan, saya dan banyak blogger lain kadangkala (mohon maaf) yang punya bahasan gado-gado istilahnya, dan yang mungkin arah dan isinya masih amburadul, justru menjadikan nama blog lifestyle ini sebagai kedok agar kelihatan ber”niche” (dibaca: jelas topik, arah, dan tujuannya).

Eh, daripada kepanjangan dan ngga ngeh apa yang saya bahas, saya infoin dulu, apa sih niche itu? Jadi niche itu sepemahaman saya dari apa yang saya baca dan dengar, adalah seperti tema atau topik yang menjadi fokus utama kita dalam menyajikan konten di blog.

Lifestyle menurut hampir semua umat manusia menganggap adalah sebuah niche tentunya. Tapi menurut saya sekarang, lifestyle bukanlah sebuah niche blog. Ops, hehe jan baper yee!

Kenapa saya bilang begitu? Karena niche kan bisa dikatakan topik yang menjurus gitu kan ya? Lha kalo topiknya campur-campur niche-nya gimana? Niche campur-campur? Atau topik campur-campur itu pasti niche-nya lifestyle? Hehe.

Sekarang Saya Adalah Seorang Travel Blogger

Suryani Palamui sebagai Travel Blogger
Am I Travel Blogger? | Dok. Suryani Palamui

Sebenarnya disini saya bukan mau bahas panjang lebar mengenai blog lifestyle, karena pasti udah banyak yang tahu kalo blog lifestyle itu identik dengan isinya yang bercerita mengenai keseharian dengan macam-macam topik didalamnya.

Tapi di subjudul dibawah saya mau coba menggambarkan seperti apa niche lifestyle ini di mata saya. Oke?

Sekarang ijinkan saya mendeklarasikan bahwa mulai sekarang, saya pengen blog Yanikmatilah Saja ini dikenal sebagai Travel Blog dengan saya sendiri sebagai seorang Travel Blogger. Widiih, kok rasanya aneh ya, Yani adalah Travel Blogger? Hahaha.

Migrasi ke WordPress Membuka Mata Saya

Sumpah, saya mikirin ini ngga dalam satu malam. Saya mikirin ini jauh dari setahun yang lalu ketika udah migrasi dari Blogspot ke WordPress.

Makin kesini WordPress buat saya berpikir gimana caranya blog ini semakin baik, ngga amburadul dengan topik macam-macam sebagaimana saat saya menggunakan Blogspot dulu.

Saya ngga bisa leyeh-leyeh jadi blogger kayak waktu di jaman Blogspot dulu. Apa-apa mah nyantai. Duitnya keluar paling cuman seratus ribuan pertahun buat bayar domain. Bahkan ngga ada job blog pun I’m ok. Saya kerja dan bisa bayar pengeluaran blog dengan gaji saya di Arsitektur.

Baca Juga: Alasan Saya Pindah dari Blogger ke WorPress

Kalo WordPress? Hmm, awal-awal sih masih nyantai. Begitu hosting mulai penuh dan minta di upgrade, mulai deh stress-nya. Saya ngga bisa nyantai lagi bro! Bayar hosting dan domain-nya udah ngga oke.

Tapi bukan berarti saya nyesal pindah ke WordPress lho yah. Justru ini ngebuat saya mikir keras gimana caranya agar blog ini bisa lebih bertumbuh, dan bisa memberikan saya penghasilan yang worth dengan maintenance-nya.

Google Adsense Memanggil Jiwa Materialistis Saya

Sejak keterima adsense di blog Blogspot sebelumnya, sebenarnya udah mulai muncul tuh semangat-semangat nulisnya biar bisa payout. Tapi ya gitu deh, kalo udah fokus di kerjaan konstruksi, jadinya kerjaan nulis cenderung diabaikan bahkan dihindari.

Apalagi pas udah pindah ke WordPress bro, hal ini nge-push saya banget untuk bisa menghasilkan duit lagi. I’m human, guys! Awal-awal keterima adsense, yang didapat cuma puluhan rupiah per hari.

Hingga akhir-akhir ini bisa dapat ribuan rupiah per hari, mulai deh ngebuat saya pengen hijrah dari yang cuma pengen jadi blogger hore-hore menjadi blogger materialistis. Haha.

Blog Lifestyle Menurut Saya Sebenarnya Adalah…

Di beberapa kesempatan saya atau kamu mungkin sering denger bahwa untuk menjadi seorang blogger yang bisa menghasilkan, yah menjadi blogger matre maksud saya, kamu harus punya niche.

Blog lifestyle memang adalah niche secara umum. Tapi berat sih niche itu. Terlalu global menurut saya. Susah untuk ngegaet pengunjung setia dari google. Kalo dari blogwalking mah oke-oke aja. Sayangnya saya ngga kuat kalo blogwalking sering-sering karena kepentok kerjaan.

Menurut saya, bagi sebagian blogger dalam memilih niche lifestyle ini seperti ibarat memilih jurusan IPA waktu SMA. Eh larinya pas kuliah belum tentu jurusan exact kan? Ngga sedikit yang beralih ke jurusan non exact.

Bagus seandainya kamu yang milih jurusan IPA udah tau di masa depan kamu ingin berkarir sebagai engineer misalnya. Lha kalo kamu pilih IPA karena belum tau mau jadi apa? Jadinya masuk IPA biar pas kuliah bebas ngambil jurusannya.

Kenapa kita ngga fokus aja menentukan tujuan yang pengen kita capai? Toh dengan begitu ilmu yang kita dapat bisa lebih terarah sesuai dengan karir yang kita ingini nanti.

Nyambungnya dengan blog lifestyle yah gitu, susah deh menurut saya. Abu-abu. Pengennya cari aman, tapi realitanya belum tentu aman. Tapi bukan berarti kamu ngga bisa sukses dengan blog lifestyle yah. Bisa kok.

Hanyaaa, niche lifestyle ini akan sukses dijalankan kalau si blogger bisa melakukan branding dengan baik.

Saya mau nanya deh, adakah lifestyle blogger yang begitu kuat namanya di jagad Indonesia Raya ini? Mungkin ada kali ya, tapi ngga sekuat Trinity yang ada dengan label Travel Blog-nya, atau Diana Rikasari dengan label Fashion Blog-nya.

Menurut saya, mungkin-mungkin saja ada orang yang melabeli diri mereka sebagai lifestyle blogger karena topik yang dibahas macam-macam, tetapi menurut orang lain atau pengunjung setia blog mereka, justru mereka dianggap bukan sebagai lifestyle blogger karena ada topik yang lebih condong yang mereka bahas.

Kecondongan topik yang dibuat bisa ke topik travel, fashion, food, dll. Biasanya, mereka yang condong seperti ini pasti akan lebih dikenal dengan kecondongan topik mereka. Gimana?

Ngga jauh-jauh deh. Temen saya sendiri meski dia bahas parenting, fashion, fotografi, desain, beauty, makanan juga, haha banyak kan ya, tapi justru dia tuh dikenal sama temen-temen itu sebagai fashion blogger.

Itu dipengaruhin branding dia kali ya, yang setiap ketemu selalu tampil dengan look yang ngga biasa.

Alasan Utama Saya Menjadi Seorang Travel Blogger

Nah kalo saya, setelah bersemedi sekian lama akhirnya saya mutusin untuk menjadikan blog Yanikmatilah Saja sebagai Travel Blog.

Iya, saya tau, mungkin kamu ngerasa isi blog saya agak jauh dari traveling selama ini. Tapi kalo dipikir-pikir bukannya sejauh ini saya selalu dikasih rejeki keluar kota yang totally free dan tinggal selama berbulan-bulan di kota orang tersebut?

Yap, fasilitas itu semua bisa saya dapetin karena saya dipercaya oleh beberapa perusahaan selama ini sebagai tenaga teknik di dunia konstruksi. Saya keluar kota tiap tahun seperti ini sejak 2015 lho. Hehe.

Saya mikir ada banyak orang yang rela ngeluarin duit untuk bepergian sana sini agar mempunyai konten. Tentunya hal ini dilakukan diluar faktor untuk mencari suasana baru atau liburan yah.

Mereka merencanakan hari cuti mereka untuk liburan seorang diri ataupun bersama teman-teman, dan keluarga dengan keinginan bisa mengabadikan cerita perjalanan mereka dalam bentuk tulisan (blog) atau video (youtube) biasanya.

Singkatnya gini, mereka jadi travel blogger atau travel vlogger aja mau ngeluarin duit dan effort diawal untuk menuliskan cerita mereka, termasuk berani mengikrarkan bahwa mereka adalah seorang travel blogger/ travel vlogger.

Lha saya? Kurang bersyukur apa saya coba? Tiga sampai enam bulan saya dikasih waktu di kota orang untuk kerja.

Dalam rentan waktu tersebut, berapa tempat wisata yang bisa saya datangi? Berapa banyak penduduk lokal yang bisa saya temuin dan mendapatkan pengalaman yang unik dari mereka? Ada berapa jenis makanan lokal yang bisa saya santap?

Ngga cuman itu, bahkan saya bisa lho sedikit-sedikit belajar bahasa daerah setempat yang mereka gunakan.

Firman Allah, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Ini pertanda sih kalo saya sebenarnya punya peluang yang besar banget untuk jadi travel blogger, cuma sayanya aja yang ngga cukup kuat untuk nerima label itu. Eh, tapi sekarang kuat kok! Hehe.

Kenapa Ngga Dari Dulu Jadi Travel Blogger-nya?

Yang bikin ngga kuat sebenarnya karena saya orangnya ngga tau berenang, ngga suka mendaki atau ke tempat-tempat yang medan perjalanannya susah alias ekstrim.

Padahal kan kalo traveler itu kudu setrong yah? Ku gak se-setrong itu guys! Yaaah, tapi itu akhirnya bisa saya terima sebagai dirinya Yani.

Alasan Tambahan yang Menguatkan Saya Untuk Jadi Travel Blogger

Oh iya, selain itu yang menguatkan saya jadi seorang travel blogger lagi adalah karena saya background-nya dari Arsitektur, dan kedepannya pengen jadi Arsitek Profesional.

Background saya ini justru ngebuat saya lebih tertarik mengunjungi tempat yang bisa digali sisi arsitekturnya dibandingkan sekedar pantai dan gunung. Ya ngga sih?

Kamu yang baca ini kalo background-nya di Arsitektur pasti paham deh gimana pentingnya arsitek jalan-jalan untuk mendapatkan inspirasi.

Teman sepantaran waktu jaman saya kuliah dulu aja kaget tau saya bisa KKL ke Malaysia, Hong Kong, Macau. Saya ngga boong. Selama satu minggu saya menjelajahi 3 negara tersebut bareng teman-teman angkatan saya di jurusan demi mata kuliah yang ada di jurusan kami.

Baca Juga: In Macau Until Senado Square

Apalagi event. Udah dari jaman kuliah saya hobi ngevent hingga akhirnya bisa mengelola Makassar Event.

Pergi ke event tentu aja nyangkut banget ke dunia traveling kalau event-nya itu adalah event khusus dari pemerintahan, atau event lokal yang bisa terkenal satu Indonesia bahkan dunia seperti event F8.

Travel Blog Adalah Niche Blog yang Profitable

Eh, sebelumnya saya bilang kan kalo saya pengen jadi blogger yang materialistis? Nah, akhirnya saya browsing tuh niche yang bener-bener profitable dan bisa punya followers langgeng. Tapi niche-nya wajib yang saya sukain juga.

Ngga lama saya browsing hingga akhirnya menemukan yang bener-bener top niche itu ngga jauh-jauh dari travel, beauty, food, dan fashion.

Niche Food, Beauty, dan Fashion Ngga Cocok

Menjadi Beauty Blogger, jelas aja ngga mungkin karena saya ngga update dan ngga suka ngoleksi beauty stuff. Saya mah yang standar-standar aja.

Food Blogger juga ngga mungkin karena saya tuh kalo ngereview makanan suka kehabisan kata-kata selain enak. Apalagi saya ngga tau masak, bahkan bahan-bahan makananpun masih banyak yang ngga ngerti.

Fashion Blogger apalagi. Penampilan saya sederhana banget, dengan gaya pakaian yan standar-standar hehe. Jadi untuk 3 niche tadi udah big no!


Udah deh, segitu aja curhatanku kali ini. Semoga dengan label Travel Blogger yang baru ini, saya makin rajin nulis dan rajin berbagi. Temen-temen yang udah jauh lebih dulu bergelut di traveling blog, mohon bimbingannya ya.

Dan buat teman-teman yang punya masukan, boleh langsung komentar aja dibawah ini. Tapi please, berkomentar dengan bijak, and don’t spread hate speech. 🙂

Jadi Travel Blogger Akhirnya Menjadi Pilihan Saya. Ini 10 Cerita dan Alasannya! Yanikmatilah Saja

2 thoughts on “Jadi Travel Blogger Akhirnya Menjadi Pilihan Saya. Ini 10 Cerita dan Alasannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *