Rasanya Jadi Pengawas Lapangan di Proyek LAPAS Bernilai Puluhan Milyar

Rasanya Jadi Pengawas Lapangan di Proyek LAPAS Bernilai Puluhan Milyar

Sebulan lebih sudah saya sekarang ada di Lombok, tepatnya di kota Mataram sejak kedatangan 3 Juli 2019 kemarin. Kenapa saya bisa kesini , Alhamdulillah saya dikasih kesempatan kerja di bagian kepengawasan konstruksi lagi sama seperti kerjaan jadi pengawas di Palu dan Tarakan kemarin. Hehe, jadi pengawas proyek lagi deh.

Guys, bersyukurlah kalian yang kuliah di bidang konstruksi seperti Arsitektur dan Sipil. You are so lucky, banyak banget peluang kerja yang bisa kalian dapatkan ketika kuliah selesai. Hehe, sepengamatan saya sih jurusan kayak gini tuh lulusannya jarang yang nganggur.

Kali ini tulisan yang pengen saya share kurang lebih seputaran kerjaan pengawas proyek selama di Mataram sih. Proyek yang saya tangani ini adalah proyek Pembangunan Relokasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tahap III Mataram, yang berlokasi di Desa Kuripan, Lombok Barat. Seperti judulnya, ngga salah lagi proyek LAPAS yang saya awasin ini bernilai puluhan milyar. Ngga sama seperti nilai kontrak di pengawasan Palu dan Tarakan yang cuma berkisar 1 sampai 2 M, kerjaan kali ini lebih challenging.

Sebenarnya saya bingung sih musti mulai darimana, karena udah sebulan lebih ngga nulis di blog jadinya rada kaku buat merangkai kata-katanya. Haha, dimaklumin yaa.

Yang paling beda yang saya rasain dari pengalaman mengawas sebelumnya adalah di status perusahaan yang saya bawa dalam menjalani tugas sebagai pengawas proyek. Kalau kemarin statusnya hanya sebagai pengawas lapangan proyek biasa, kali ini perusahaan yang saya tempati berstatus sebagai MK (Manajemen Konstruksi) dari CV. Sukma Lestari (Perusahaan Konsultan Makassar).

Bedanya, kalo pengawas lapangan biasa tuh kita hanya dilibatkan saat proyek pelaksanaan berjalan hingga selesai. Sementara MK, tugasnya lebih besar lagi karena MK masuk lebih awal, mulai dari mengawasi proses perencanaan yang dilakukan oleh biro konsultan arsitektur perencana, sampai mengawasi pelaksanaan pekerjaan di lapangan oleh kontraktor hingga selesai. Sementara di lapangan juga, saya ngerasa orang-orang MK lebih profesional, dalam artian ada tenaga yang lebih berpengalaman dan ngerti soal lapangan untuk ditempatkan stand by disini agar ketika ada masalah yang terjadi, solusi bisa cepat bisa didapatkan.

Struktur Organisasi MK Lapas
Struktur Organisasi MK Proyek Relokasi LAPAS Mataram Tahap III

Ngga seperti waktu saya di Palu sama Tarakan kemarin malah saya dilepas berdua bareng temen yang kita tuh sama-sama ngga ngerti banyak soal lapangan. So, setiap ada masalah, pasti nanya ke tim leader dulu deh. Prosesnya jadi lumayan lama karena tim leader ngga stand by di proyek.

Well, back to LAPAS, proyek ini nilai kontraknya adalah 30an M yang pelaksanaannya mulai dikerjakan sejak 3 Juli 2019 sampai 29 Desember 2019 (180 Hari). Kontraktornya sendiri dari perusahaan Bali, yaitu PT Tunas Jaya Sanur. Sekilas mengenal personil mereka di lapangan, mereka cukup profesional dan lengkap. Haha, pokoknya secara tenaga mereka oke deh. Mereka orangnya juga kalo ada yang dikasih tau ngga begitu bandel. Alhamdulillah sampai saat saya nulis ini sih masih bagus-bagus aja. Tau sendiri lah yah kelakuan kontraktor gimana.

pengawas proyek bersama pelaksana dan pegawai lapas
Rapat Bersama Tim Perencana, Pelaksana, dan Pengawasan. Tebak Saya yang Mana? Haha.

Trus challenge-nya dimana? Hmm, agak berat sih saya mau cerita ini. Itupun juga saya sebenarnya ngga boleh terlalu membuka permasalahan yang ada di lapangan karena ngga semua hal bisa diceritakan atau disebarluaskan. Ibaratnya ini tuh kayak dapur rumah tangga si MK/ pengawas proyek dan Kontraktor LAPAS. Takutnya juga kalo dibuka bisa terjadi hal yang ngga diharapkan. Tapi ngga papa saya hanya akan cerita permasalahan yang bisa diceritain aja.

Yang pasti, ada beberapa pekerjaan dari tahap lalu yang sebenarnya bermasalah. Seperti yang udah saya kasih tau sebelumnya kalo proyek ini tuh adalah proyek lanjutan. Di dua tahun sebelumnya pekerjaan di tahap pertama dan keduanya udah selesai dikerjain, dan sekarang waktunyalah pekerjaan tahap ketiga.

Beberapa masalah yang kami dapatkan di lapangan lebih ke kondisi eksisting kolom bangunan dan kolom pagarnya. Eh, sebelum jauh saya cerita saya kasih tau dulu ya di proyek LAPAS ini item pekerjaannya apa aja, yaitu :

Pembangunan Blok Hunian 1 (Pekerjaan Lanjutan)
Pembangunan Blok Hunian 2 (Pekerjaan Baru)
Pembangunan Kantor Teknis (Pekerjaan Lanjutan)
Pembangunan Dapur (Pekerjaan Lanjutan)
Pembangunan Sarana Ibadah Masjid (Pekerjaan Baru)
Pembangunan Pagar Keliling Tinggi 6+1 (Pekerjaan Lanjutan)
Pembangunan Pagar Keliling Tinggi 6+1 (Pekerjaan Baru)
Pembangunan Tembok Antar Bangunan Tinggi 4+1 (Pekerjaan Baru)
Pembangunan Pagar Transparan Anti Panjat Tinggi 4+1 (Pekerjaan Baru)
Pembangunan Saluran (Pekerjaan Baru)
Pembangunan Sumur Bor (Pekerjaan Baru)
Pemasukan Daya Listrik (Pekerjaan Baru)

Master Plan Lapas
Master Plan Lembaga Pemasyarakatan Mataram Tahap III

Kalian bisa lihat sendiri item pekerjaan ini emang butuh personil yang ngga sedikit untuk dikerjakan. Wajar juga nilai kontraknya puluhan milyar.

Kembali ke kolom bangunan tadi, jadi kolom bangunan yang saya maksud tuh adalah kolom bangunan di kantor teknis. Kalau kalian cek keadaan eksistingnya, bisa dilihat dengan jelas kalau kolom-kolomnya ngga dikerjakan secara maksimal. Ada yang keropos, ada yang kepelintir, ada pula yang ngga selurusan gridnya. Lantas siapa yang disusahin?

Kantor Teknis LAPAS Mataram
Kondisi Eksisting Kantor Teknis LAPAS Mataram

Jelas kontraktornya. Kontraktor yang di tahap sekaranglah yang disusahin karena demi mewujudkan bangunan yang sesuai rencana si arsitek, ada beberapa kolom yang mesti di plester tebel dan di cor sedikit. Setelah diukurpun ternyata perletakan kolom yang satu dan yang lainnya ngga selurusan dalam satu grid. Alhasil ketika masang batanya nanti yah ngga bener-bener dibikin di tengah.

Karena Kolomnya Ngga Pas di Grid, Alhasil Masang Batanya Juga Ngga Pas Ditengah

Sebenarnya kita pengawas proyek jadi kasian juga sama kontraktornya karena mereka harus terima dengan legowo hasil pekerjaan dari tahap sebelumnya yang ngga maksimal. Simplenya, mereka jadi memperbaiki pekerjaan-pekerjaan yang kurang tadi supaya pekerjaan yang mereka kerjakan nantinya ngga bermasalah.

Perbaikan Tulangan Kolom Pagar Eksisting yang Ngga Lurus

Disini tuh saya amaze banget sama buruh bangunannya karena selain kerjaan mereka rapi, sebagian dari mereka adalah perempuan yang jadi buruhnya. Mereka-mereka yang perempuan ini (orang lokal Lombok) umumnya bisa kerja jadi buruh bangunan karena ikut suaminya atau ngga karena ada keluarganya juga yang jadi buruh. Mereka pada rajin banget deh. Sholatnya pun juga mereka rajin-rajin lho.

Sementara untuk kontraktornya sendiri, bisa dibilang masalah-masalah yang ada ngga membuat kita pengawas proyek terlalu ribet. Dalam artian kita disini MK ngga dibikin sampe emosi buat negur kontraktornya kalo bikin kesalahan. Justru, yang bikin kita sebagai pengawas proyek pusing itu adalah di bagian perencanaannya.

Pengawas LAPAS

Saya sebenarnya ngga tau ya, gimana proyek diluaran sana kebanyakan ketika melihat ada banyak gambar perencanaan yang ngga sinkron dengan kondisi di lapangan. Malahan, ada banyak juga pekerjaan yang ngga disebutin di RAB, sampai ke volume pekerjaannya juga selisihnya banyak.

Terus terang aja kita MK was-was juga kalau pekerjaan yang kontraktor kerjakan di lapangan nantinya malah over dari budget yang sudah ditetapkan. Standar yang ada sih, nilai kontrak dengan nilai total perubahan kontrak setelah pekerjaan dilaksanakan, kenaikan nilainya ngga boleh lebih dari 10%. Jadi kalau misalkan nilai kontrak proyeknya 1M, dan 10% dari 1M adalah 100 Juta, maka nilai perubahan kontrak totalnya itu ngga boleh lebih dari 1,1M. Paham kan?

Nah, di kondisi pekerjaan LAPAS ini, sementara dihitung budgetnya itu udah lebih dari nilai kontrak. Jangan sampe deh over dari 10% itu. Sementara tantangannya adalah pembangunan proyek LAPAS ini mesti dikerjakan agar bisa berfungsi secara operasional. Contoh, pekerjaan di bangunan dapur.

Di bangunan dapur yang pekerjaannya lanjutan ini, ada item pekerjaan yang semestinya dikerjain, tapi di RAB malah item pekerjaannya ngga dimasukin. Dalam kasus ini adalah pembuatan pondasi tungku masaknya. Sesuai gambar, pelaksana mesti ngebangun pondasi plat sampai ke kolom pedestal buat dudukan baja IWF. Sementara di RAB, kerjaan itu ngga ada itemnya sama sekali sehingga kalo kita ngerjain pekerjaan tersebut, jadinya sama dengan kita ngerjain pekerjaan tambah (karena nilai rupiah pekerjaannya ngga tercantum di kontrak).

Gambar Dapur Lapas
Gambar Detail Prinsip Tiang dan Balok Rel Alat Masak

Wajar jadinya entah di hari keberapa saya lupa, ada kunjungan dari orang Kantor Wilayah Kemenkumham NTB ke proyek ini. Waktu itu sih saya ngga nemenin mereka keliling proyek, cuma chief inspektor saya aja yang sempet nemenin mereka termasuk kontraktor juga. Nah dalam kunjungannya ini akhirnya ada keputusan dari beliau untuk menghilangkan/ mengubah beberapa item pekerjaan agar nilai kontrak bisa berkurang.

Contohnya penggunaan kawat razorwire di bangunan blok hunian 1. Yang semestinya perletakannya itu akan dibikin mengelilingi atap spandek nantinya, jadinya malah posisi razor wire itu dipindahin ke dalam area plat dak atapnya. Supaya apa? Yah supaya volume kawat razor wirenya bisa berkurang. Selain itu ada juga kawat razorwire di dapur yang semestinya dikerjain, jadinya dihilangkan karena menurut mereka kawat razorwirenya ngga perlu.

Atap Blok Hunian 1 Diawasi Pengawas Proyek
Atap Plat Dak Blok Hunian 1 yang Akan Dipasangi Kawat Razor Wire Keliling

Sementara perubahan-perubahan yang diputuskan oleh pak kepala divisi administrasi dari kanwil, sudah dicatet dan dalam proses dihitung nilainya agar bisa menjadi nilai MC0. Kita lihat aja endingnya kayak gimana, yang penting semoga kerjaan ini lancar dan bisa selesai ngga banyak masalah. Haha.

Kalau ditanya susahan mana ngawas di LAPAS atau di proyek sebelumnya, saya bisa jawab jujur lebih susah di proyek sebelumnya di Tarakan karena progress kerjaan di lapangan sampe minus 10% dan saya di panggil ke Jakarta sama tim pusat karena pekerjaan kontraktornya yang bergerak lambat. Sementara disini, saya ditemenin 2 orang. Satu orang yang udah senior banget, dan yang satunya masih fresh graduate.

pengawas proyek

Yang mesti kalian tahu, kesuksesan kontraktor di lapangan dalam mengerjakan pelaksanaan pembangunan, adalah kesuksesan MK atau Pengawas Lapangan Proyek juga. Begitupun sebaliknya kalau kontraktornya mengalami kendala di lapangan hingga pekerjaannya jadi terlambat atau terhambat, MK atau Pengawas Lapangannya pun juga ikut susah, karena sebagai pengawas kamu mesti ngasih penjelasan ke owner apa yang membuat pekerjaan itu terlambat dari tenggat waktu yang diberikan.

Tapi, secara ilmu saya jadi banyak belajar banget di proyek LAPAS ini. Inilah challenge buat saya untuk memahami setiap pekerjaan yang dilakukan di lapangan. Kalau kalian follow saya di instagram pasti kalian tahu deh betapa seringnya saya ngeshare di story proses pelaksanaan di lapangan. Haha. Alhamdulillah banyak feed back yang positif mengenai hal tersebut. Kalau kalian belum follow saya saat itu, kalian bisa cek highlight LAPAS MATARAM yang ada di bio instagram saya.

Menurut saya beda banget lah proses pembuatan dan pelaksanaan bangunan seperti LAPAS ini dibandingkan dengan bangunan umum lainnya. Seperti yang kalian tahu, secara konstruksi, LAPAS ini membutuhkan keamanan yang lebih tinggi dibandingkan bangunan biasa. Contoh kecilnya aja disini justru pembuatan dindingnya didominasi dengan susunan satu bata, dan bukan 1/2 bata.

pengawas proyek lapas pasangan satu bata
Coba Deh Perhatiin Susunan 1 Bata yang Dipasang. Lebih Tebelkan?

Terus juga, disini akhirnya saya jadi mengenal material asing yang ngga pernah saya ketahui sebelumnya seperti material pagar transparan anti panjatnya. Haha. Receh sih. Tapi yah, seneng aja akhirnya jadi tau. Apalagi kalo saya udah ngeshare kerjaan-kerjaan di lapangan di story instagram jadinya saya seperti belajar juga. Mulai dari tes slump beton, uji tarik besi, pekerjaan dinding, udah ku share semuanya di stroy. Haha.

Oh iya, entah menurut kalian ini basi atau ngga, tapi jujur saya baru tau lho ternyata kamar mandi di LAPAS itu posisinya bisa di dalam sel, dan tinggi kamar mandinya itu cuma sekitar 1,5 m. Kamar mandi atau WCnya ngga ada plafond alias bagian atasnya terbuka. Ih gila sih jujur saya kaget sampe sebegitunya karena baru tau bentukan kamar mandi dan WCnya LAPAS yang sebenarnya. Bahkan mo kabur lewat WC dan kamar mandi juga ngga bisa karena kita yang di luar kamar mandi aja bisa ngeliat orang di dalam. Keliatan banget. Orang tingginya aja cuma 1,5 m.

Asal kalian tahu juga ya, pondasi pagar disini juga dalem lho. Mereka pekerja sampai ngegali ke bawah tanah buat bikin pondasi bisa sampe hampir 2 meter. Itu supaya apa? Biar narapidanya ngga bisa kabur lewat bawah. Kalo mo kabur kebawah kan jadi kepentok pondasi. Haha. Mana disini juga pagarnya pembatasnya ada dimana-mana. Peluang buat kabur susah.

galian pondasi diawasi pengawas proyek
Galian Pondasi Pagar

And then secara administrasi, menurut saya mereka pihak LAPAS lumayan ketat terhadap MK dan Kontraktor, karena kita tiap minggu mesti buat laporan ke mereka terkait progress yang dicapai. Alhamdulillah di bulan pertama ini deviasinya positif. Mereka owner juga ngga banyak ngomel-ngomel karena sejauh ini pekerjaan yang terlihat lancar-lancar aja. Beruntung permasalahan teknis yang terjadi di lapangan masih bisa di handle oleh Kontraktor, MK, dan Perencana.

Itu aja deh yang saya mau sampein. Kalo kalian mau nanya-nanya, atau ada masukan, boleh tinggalin komentar dibawah atau DM saya aja di Instagram. Saya suka kok kalo ada yang bahas soal beginian. Yaaah, biar saya makin teredukasi juga. Haha. Makasih yah udah baca. Bye.

One thought on “Rasanya Jadi Pengawas Lapangan di Proyek LAPAS Bernilai Puluhan Milyar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *