Apa Untungnya Bikin Bullet Journal?

Apa Untungnya Bikin Bullet Journal? – Beberapa hari yang lalu, tepatnya Minggu 6 Januari 2019 saya menghadiri workshop Bullet Journal yang diselenggarakan oleh komunitas Akademi Berbagi (Akber) Makassar di Cafe Mama Jl. Bau Mangga No. 9 pukul 15.30. Sebenarnya mengikuti event ini ngga saya rencanakan sejak jauh hari, karena saya baru tau info event ini sehari sebelum event dilangsungkan dari grup komunitas Makassar Event.
Saya sendiri tau mengenai Bullet Journal dari tahun lalu, cuma ngga begitu tau apa untungnya dan manfaat lebihnya. Soalnya, sepintas kalau ngeliat orang-orang buat Bullet Journal, mereka itu seperti melakukan aktifitas doodle atau nge-scrap book.
Menarik sih menarik. Tapi saya ngga punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal kayak itu. Kalaupun mau baik dalam soal manajemen waktu, saya lebih memilih menggunakan aplikasi di handphone. Banyak malah tersedia di app store maupun di play store. Kalau mau mengasah kreatifitas, saya ada banyak job desain yang bisa dijadikan tempat untuk berlatih. Untuk mengabadikan cerita dan perjalananpun, ada blog yang bisa saya jadikan wadah untuk menampung itu semua secara abadi.
Lalu apa untungnya bikin Bullet Journal?
Hanya buang buang waktu. Itu yang ada di pemikiran saya sebelumnya.
Tapi jujur, saya sering heran sekaligus penasaran kok banyak youtuber dan blogger terkenal punya Bullet Journal? Pasti ada khasiat luar biasa yang didapat dari membuat Bullet Journal ini.
So, ketika ada info mengenai workshop Bullet Journal yang akan diadakan esok harinya, saya langsung mikir kenapa ngga saya hadir di acara itu? Apalagi acara kayak gitu ngga pernah dibuat di Makassar setau saya. Hingga beberapa detik kemudian saya mutusin : Ok, I’m in.
Esoknya, saya ke workshop tersebut bersama Sri, teman komunitas di Makassar Event yang juga tertarik belajar Bullet Journal. Alhamdulillah kita berdua ngga telat mengikuti kegiatannya. Kak Atria Sartika selaku pemateri begitu baik menerangkan mengenai Bullet Journal ini. Ngga banyak yang diterangkan, karena kak Atria Sartika lebih menekankan kita peserta yang hadir untuk langsung praktek.
Kak Atria Sartika Menjelaskan Tentang Bullet Journal
Saya mulai mencoba bikin Bullet Journal dari covernya. Dengan peralatan yang seadanya, cover Bullet Journal yang saya buatpun jadi.
Kemudian kita disuruh untuk bikin tracker. Jadi, tracker itu adalah bagian dari Bullet Journal yang gunanya memantau kegiatan atau habit yang ingin dikerjakan sehari-hari. Isinya ada tanggal dalam sebulan, aktifitas yang ingin dipantau, dan simbol-simbol. Secara ngga langsung tracker ini bisa bikin kita jadi disiplin.
Contoh, di tahun ini saya pengen sholat 5 waktu on time. So, saya diajarin oleh kak Atria untuk mulai bikin tabelnya. Kalau saya berhasil melakukannya secara on time, maka saya akan ngasih simbol checklist (✅), dan kalau ngga on time, saya akan ngasih simbol kali (❌).
Setelah itu, saya mulai bikin habit tracker yang lain. Ada banyak sih yang pengen saya track, cuma ngga keburu waktunya untuk bikin di hari itu. Jadinya seperti ini deh.
Dari kegiatan tsb, akhirnya saya ngerti kenapa banyak orang bikin Bullet Journal. Rasa penasaran saya mengenai khasiat Bullet Journal-pun terjawab setelah mengikuti workshop ini. So, sekarang waktunya saya jawab pertanyaan :
Apa Untungnya Bikin Bullet Journal menurut saya?
Keuntungan Pertama :
Menggabungkan antara diary dan planner itu ngga mudah. Diary pada umumnya hanya jadi alat untuk bercerita. Ngga ada hal yang bisa didapat dari menuliskan diary melainkan sejarah, dan senyum-senyum saja ketika membacanya setelah sekian lama. Tapi di Bullet Journal, diary itu bisa kita jadikan tracker, dimana tracker ini bisa memacu kita untuk lebih disiplin, dan lebih membuat kita sadar dan bisa mengevaluasi diri untuk banyak hal kedepannya.
Planner pun begitu. Kita sering bikin perencanaan di aplikasi handphone, agenda, bahkan di sticky notes, tapi plan tsb tidak jarang jadinya awut-awutan. Ya ngga sih? Untung-untung rencana itu terlaksana. Lah kalau ngga? Masalahnya sekarang, ngga semua orang diberikan karunia untuk bisa mengorganize rencana mereka dengan baik. Ya udah, kalo emang ngga punya mukjizat itu, seenggaknya ada keinginanlah untuk bisa organize rencana secara baik dan teratur. Dan solusinya menurut saya adalah dengan Bullet Journal. Karena di Bullet Journal, diary dan planner itu dijadiin satu tapi modelnya teratur gitu lho. Untuk lihat model-modelnya bisa baca : Cara Membuat Bullet Journal Untuk Pemula.
Keuntungan Kedua :
Kalau kalian memutuskan untuk beli planner atau apapun yang sejenis dari toko, itu sah-sah aja. Namun kendalanya, ngga semua isi planner mewakili apa yang kita inginkan. Sebagai contoh, rencananya kita pengen ngetrack habit untuk mencapai berat badan ideal. Nah kadang kala, tracker macam itu ngga disediain di planner yang dijual di toko-toko karena dibuatnya secara umum atau general. Sementara kalian tau kan, kita semua punya kebutuhan yang beda-beda. Oleh karena itulah Bullet Journal muncul supaya kita bisa ngeset sedetail apapun rencana kedepan dengan format yang jauh lebih spesifik. Dan itu sangat membantu.
Keuntungan Ketiga :
Bullet Journal itu pedoman yang kalian bisa set semau kalian dengan cara yang lebih teratur. Kendala banyak orang selama ini, mereka terlalu membuat perencanaan di banyak media sekaligus, dan itu sifatnya ngga rapi. Karena hal-hal itu mereka jadinya pusing sendiri gimana mesti memulai. Bayangin, udah bikin plan di handphone, trus punya buku catatan kecil ditulis lagi plannya, belum lagi kalau ada catatan penting di blog. Ribet deh. Nah di Bullet Journal, liatnya itu jadi ngga ribet. Believe me. Awalnya aja pas bikin formatnya kita akan dibuat sedikit pusing. Tapi setelah itu, semuanya lancar mulus. Yang penting kita melakukannya secara konsisten.
Suryani Palamui
Keep in touch with me
Instagram :Β @suryanipalamui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *